Tampilkan postingan dengan label HUMOR BATAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUMOR BATAK. Tampilkan semua postingan

Dua Orang Mabuk di Bar

Posted by janudin oke Kamis 0 komentar


Seorang pria sedang minum di sebuah bar. Setelah beberapa gelas ia menoleh ke pria yang duduk disebelahnya, "Kayaknya aku pernah ketemu kau?!? Kau orang Batak ya?"

Pria itu mengangguk, "Ya, aku Batak! Aku juga familiar dengan mukamu; Kau orang batak juga?!?"

"Ha..haaaa..sama kita!!! Horas bah!!", kata pria pertama. "Horas..horas!!, sahut pria disebelahnya gembira.

"Kampungmu dimana?" tanya pria kedua. "Aku dari Balige", jawab pria pertama, "Kau???", lanjut pria pertama.

"Bah!!! sama kita, aku juga Balige-Man..ha.ha.ha..ha..horas..horas!!!", balas pria kedua.

"Ngomong-ngomong Lae, kau SMA dimana dulu di Balige???", pria pertama sambung bertanya.

"Aku di SMA 1 Lae...kalo kau Lae..jangan-jangan SMA 1 juga ha..ha..ha...haaa..", jawab pria disebelah pria pertama.

"Alamaaaak, aku sekolah SMA 1 juga..bah..bah..pantas kayak kukenal Lae...mantap kali!!..sempit kali dunia ini bah!!!" teriak pria pertama.

Semakin bersemangat dan panas keduanya. Pria pertama berdiri dan bertanya, "Lalu dimana kau tinggal di Balige Lae." Dia turun dari bangkunya, mendekat pada pria kedua dan mencoba memegang tangan pria disebelahnya itu.

"Jalan Tobing!! Lae??", jawab pria kedua bersemangat dan juga turun dari bangkunya, ditariknya tangan pria pertama.

"Haaaaa..akupun tinggal di Jalan Tobiiiing Laeee...sama kitaaa, sempit kali dunia ini bah, sempit kali bah!!!", tertawa dan berteriak pria pertama.

Keduanya meloncat-loncat, tertawa keras-keras sambil berpegangan tangan.

Bartender yang dari tadi ada didekat mereka dan memperhatikan percakapan ini geleng-geleng kepala, katanya, "Aah..Cape deeh... si kembar Hutagalung mabook lagi..!!!"

Read More..

Kuliah Minta Motor

Posted by janudin oke 0 komentar


Ada anak dr Sipiongot kuliah di ITB, suatu saat dia ngirim sms ke bapaknya dikampung Medan:

"Pak,semua kawan-kawanku ke kampus naik Kijang, Kuda, Phanter, Jaguar dan Tiger, kirimlah dulu uang biar ku beli macam gitu,kepinginnya aku Pak.."

Balas bapaknya : "Kek mana lah kubikin nak, gak ada uang bapak untuk beli macam gitu, kalau gak gini ajalah, Kebetulan bapak kan baru beli babi dikampung, naik babi ajalah kau ke ke kampus ya nak..."

Read More..

Bicara Tentang Shio di Depan Opung

Posted by janudin oke 0 komentar


Opung Binsar pergi ke rumah sakit di Medan untuk check-up. Kebetulan banyak antri pasien-pasien yang semuanya ethnis Tionghoa. Saat Opung Binsar duduk menunggu giliran, para orang-orang Tionghoa tadi, yang semuanya ibu-ibu muda, sedang asyik ngobrol soal shio.

Mei-Mei: "Suami lu apa Shien..?"
Shien: "Suami gue sih monyet. Suami lu...?"
Mei-mei: "Suami gue babi. Sama kayak mertua laki-laki gue, babi juga."
Lie Hwa: "Oh... Gue kira suami elu bedua sama-sama monyet persis kayak suami gue."

(Opung Binsar heran dan terus mendengarkan percakapan mereka)

Mei-mei: "Oh enggak. Suami ama mertua gue sama-sama babi. Maka sifatnya sama-sama kayak babi."
Shien: "Oh gitu... Ipar elu yang buka bengkel di Thamrin apa Lie-Hwa?"
Lie Hwa: "Tikus, sama kayak istrinya juga tuh."

(Opung Binsar mulai emosi)....

Lie Hwa: "Mei, ipar lu yang ketemu di Sun Plaza kemarin itu apa..?"
Mei-mei: "Kambing, tapi anak-anaknya semua babi."

Opung Binsar tak tahan lagi dan teriak,

"Kurang ajar kalian semua ya... Dasar ibu-ibu muda yg nggak tau untung dan terimakasih... Masa suami, mertua dan anak sendiri dikatain babi, anjing, tikus. Ingat ini ya, kalau kalian semua menantuku udah kubuat mampus kalian semua!!"

Read More..

Balada Si Butet dan Ujian Semester

Posted by janudin oke 0 komentar


Butet menghadapi ujian semester. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke villanya di Puncak.

Setelah keluar dari jalan tol Jagorawi, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu Cipanas. Beberapa pemuda tanggung langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi. Naibaho ikan gurame yang dibakar dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar.

Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam. Begitu sampai di villa, Butet membuka pintu mobil. Siregar sekali hawanya, berbeda dengan Jakarta yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan. Sejauh Simarmata me-mandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang. Mulanya Butet ingin berenang.

Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam renang yang akan di Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun teh saja. Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia di-kejutkan oleh seekor ular yang sangat besar.

"Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang.

Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing.

Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai orang Batak pantang untuk menangis.

Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke puskesmas setempat untuk melakukan Panjaitan terhadap bibirnya. Mantri puskesmas tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya.

"Hm, ongkosnya Pangaribuan" kata sang mantri setelah memeriksa sejenak.

"Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet.

"Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil".

"Jangan begitulah. Masa' tidak Siahaan melihat bibir saya begini?"

"Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal.

"Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah".
Malamnya, ketika sedang asik-asiknya belajar sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajaguk-guk.

Dia Bonar-Bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di pintunya berbunyi "Poltak!" keras sekali.

"Ada Situmorang?" tanya Butet sambil memegang stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan. Terdengar suara pelan, "Situmeang".

"Sialan, cuma kucing..." desahnya lega. Dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.

Selesai belajar, Butet menyalakan televisi. Ternyata ada siaran Discovery Channel yang menampilkan Hutabarat Amazon serta Sima-mora, gajah Purba yang berbulu lebat. Saat commercial break, muncul Gus Dur yang terkenal dengan seruannya, "Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!"

Keesokan harinya, Butet kembali ke Jakarta dan langsung pergi ke kampus.

Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian."

Butet bergumam, "Ah, aku kan Marpaung. Boleh ribut dong..."

Read More..

UcoK Menangis Sepulang Sekolah

Posted by janudin oke 0 komentar


Pulang sekolah si Ucok nangis.

Bapaknya heran dan bertanya: "Kenapa kau menangis Ucok??"
Ucok: "Aku diusir Bu Guru Pak..."
Bapak: "Bah..! Kenapa kau diusir??"
Ucok: "Bu Guru nanya.. siapa yang tandatangan teks proklamasi?"
Bapak: "Lantas kau jawab apa?"
Ucok: "Bukan aku Bu... Sumpah! Bukan aku, Bu!!"
Bapak: "Ah, kaupun..?! Ngaku sazalah kau, apa salahnya?? Zaman sekarang susah masuk sekolah..!"
Ucok: "Iya.. Iya Pak yaaa!"

Esoknya si Ucok pulang cepat.. Dengan tampang yang lebih kusut lagi..

Bapak: "Massam mananya Ucok??"
Ucok: "Aku diskors Pak.. 3 hari.. gara-gara aku ikuti omongan Bapak."
Bapak: "Bah! Apa pulak nya maksud gurumu itu??... Ayo kita balek ke sekolah kau. Biar aku kasi tahu Guru kau yang sebenarnya."
Di Sekolah

Bu Guru: "Wah.. selamat pagi Pak Ucok, ada perlu apa nih?"
Bapak (bicara pelan): "Begini Bu Guru... aku mau kasi tahu Bu Guru tentang teks proklamasi itu.."
Bu Guru (bengong): "Yah.. kenapa Pak Ucok??"
Bapak: "Sebenarnya ibu Guru salahlaaah... Masak si Ucok yang ditanya? Kan waktu itu dia belum lahir Bu?"
Bu Guru (makin bengong): "Trus?"
Bapak: "Begini Ibu, ini terus teranglah ya... yang sebenarnya ... yang menanda tangani teks Proklamasi itu...saya , ibu...!"
Bu Guru: "Yaa ampun.. Pulang! Bapak pulang aja deh!!"

Di Jalan

Bapak: "Massam mana nya ini Ucok, kau nggak ngaku...salah. Kau ngaku salah pulak! Aku yang ngaku, salah zuga....Puusing kepalaku..!"

Tiba tiba mereka ketemu dg ompung dolinya si Ucok,

Ompung doli: "Bah!.. Darimana kalian? Kusut kali kulihat wajah kalian berdua?? Apa persoalan??"

Maka Pak Ucok pun mulai cerita sejak awal sampai mereka diusir Bu Guru... Ompung doli langsung ketawa ngakak.

Ompung doli: "Ha... Ha... Itu bukan persoalan besar...! Mana... mana teksnya? Biar kutandatangani...!"

Read More..

Total Tayangan Laman

Ubah Bahasamu

[ Arsip Blog ]